NGAWI — Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dibawah pimpinan Suparfi S.E, M.Si terus berkomitmen mendukung dan memfasilitasi kebutuhan para petani tembakau. Pada tahun ini, sekitar 120 kelompok tani aktif tercatat sebagai penerima berbagai program bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan.
Bantuan yang disalurkan mencakup paket pupuk mutlak untuk tanaman tembakau (ZA, ZK, dan Fosfat), mengingat pupuk tembakau tidak mendapatkan alokasi subsidi dari pemerintah pusat. Selain pupuk, bantuan juga meliputi 20 paket alat pascapanen (mesin perajang, terpal, angkong/Arko, dan timbangan digital), 15 kelompok penerima kendaraan roda tiga (Viar), serta kelompok penerima alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa cultivator dan handsprayer.
Penyaluran bantuan dilakukan dikoordinatori oleh Sojo, di monitor secara ketat agar tepat sasaran dan tidak tumpang tindih (tubrukan). Kelompok tani yang telah menerima paket intensifikasi pupuk tidak diperbolehkan menerima alat pascapanen maupun alsintan di tahun yang sama. Aturan ini diterapkan agar jangkuan sasaran penerima manfaat menjadi lebih luas.
Sojo sampaikan," Pemberian bantuan ini juga didasarkan pada usulan dari bawah (bottom-up) yang diajukan oleh kelembagaan kelompok tani (Poktan) maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang sudah berbadan hukum. Pihak dinas melakukan verifikasi kelengkapan administrasi serta inventarisasi data penerima agar kelompok tidak menerima bantuan secara berturut-turut setiap tahunnya.
Saat ini, jumlah kelompok tani aktif sektor tembakau di Kabupaten Ngawi mencapai 200 hingga 230 kelompok dan terus mengalami peningkatan. Luasan dan potensi budi daya tembakau kini mulai merambah ke berbagai wilayah baru, seperti Pandean (Kecamatan Karanganyar), Pengkol (Kecamatan Mantingan), Ngerayudan dan Macanan (Kecamatan Jogorogo), kawasan Kendal (Desa Jajar, Sidorejo, Karangrejo, Karangtobito), Majeasem, hingga Desa Wonosari.
Langkah ini sekaligus menjadi bentuk edukasi efisiensi penggunaan air. Pada wilayah yang biaya pengairannya tinggi, petani diimbau untuk tidak memaksakan menanam padi di musim kemarau, melainkan beralih ke komoditas tembakau yang hemat air dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Selain bernilai ekonomis, pola rotasi tanaman ini memberikan dampak positif bagi kesuburan tanah. Penanaman tembakau pada musim kemarau memberi kesempatan bagi tanah untuk mendapatkan sirkulasi udara dan panas yang cukup. Dampaknya, ketika memasuki musim tanam berikutnya (sekitar bulan 10 atau 11) dan kembali ditanami tanaman pangan, kondisi lahan pertanian menjadi jauh lebih subur dibandingkan jika ditanami padi secara terus-menerus.
Reporter
Suci
Editor
Red
Read
19.857
0Komentar